Aku dapet inspirasi nich tentang perempuan setelah baca artikel sabtu kemarin. Semua yang ditulis disana bener banget, semua itu terjadi di sekeliling kita🙂 thanks ya buat infonya🙂

Perempuan seringkali dianggap rendah oleh kaum laki-laki, kebanyakan dari mereka hanya menilai dari fisik saja, tidak menilai hatinya. Semua dinilai dari luar. Tidak hanya laki-laki, perempuanpun begitu. Ya bisa dibilang hampir sebagian besar orang menilai segala sesuatu dari luarnya saja, tanpa memperhatikan dalamnya (hati).

Para orang tua yang ingin menikahkan anaknya kebanyakan selalu menginginkan menantu yang kaya raya, mapan, memiliki segalanya (harta benda). Sekarangpun masih banyak orang tua yang seperti itu, menilai dari harta. Mereka berangapan dengan memiliki harta yang banyak hidup akan terjamin, kebahagiaan akan terjamin (memang betul, tanpa harta bagaimana kita hidup, tapi harta itu bukanlah segalanya). Kebahagiaan tidak dapat dinilai dari seberapa banyak harta yang kita miliki. Kebahagiaan itu muncul jika hati dan pikiran kita tenang, mensyukuri apa yang telah kita miliki dan selalu berpikir dan bertindak positif. Para orang tua tidak hanya menginginkan menantu laki-laki yang mapan tapi juga menantu perempuan yang mapan. Mereka berpikir walau perempuan harus tetap bekerja membantu suami (ya itu memang betul🙂 Ya intinya mereka ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, tapi belum tentu yang mereka anggap baik itu baik pula untuk kita. Karena pada hakikatnya yang menajalni itu semua adalah anak bukan orang tua.

Menurutku memang tidak salah seorang perempuan bekerja walau sudah memiliki seorang suami, selagi bisa dan mampu mengapa tidak?????? Tapi jangan sampai melalaikan tugas, kewajiban, dan haknya sebagai istri. Juga sebagai ibu jika sudah memiliki anak. Jangan sampai anak-anak terlantar karena orang tuanya sibuk mencari materi. Bekerja diluar diniatkan untuk beribadah, membantu suami.

Menurutku perempuan itu memang luar biasa (bagaimana tidak?? aku melihat itu darilingkunganku, seperti ibuku, ibu mertuaku, dan para perempuan di sekitarku). Seorang perempuan yang sudah berkeluarga, memiliki anak, dan bekerja di luar tetap bisa membagi waktu antara pekerjaan kantor dan pekerjaan rumah, dan mereka tetap memperhatikan keluarga mereka. Seorang istri / ibu rumah tangga bangun pagi-pagi buta melaksanakn sholat, memasak menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anak, menyiapkan keperluan suami untuk bekerja dan keperluan anak untuk sekolah. Saat mereka pergi seorang istri tidak berdiam diri di rumah, bersantai atau bermain. Dia membersihkan rumah, merapikan perabotan rumah, mencuci pakaian dan perabotan, mengepel, manyapu, menyetrika, dll. Begitu banyak pekerjaan yang dilakukan seorang istri / ibu. Jika punya seorang anak kecil, setelah selesai membereskan rumah dia mengasuh anak-anaknya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Siang hari menyambut anak-anak pulang sekolah dengan senyuman dan telah menyiapkan makan siang, menidurkan anak (jika punya anak balita, saat inilah seorang istri / ibu baru bisa istirahat). Saat sore hari dia sudah harus melakukan tugas dan kewajibannya lagi; membersihkan rumah, memandikan anak (masih balita), dan menunggu suami pulang kerja, menyambutnya dengan senyuman🙂. Menjadi seorang ibu rumah tangga tidak mudah, dan itu berat. Tapi apakah pernah dia mengeluh????? atau mengharapkan pamrih dari semua itu???? TIDAK, dia ikhlas menjalani itu semua, dan merasa senang jika dapat melakukan tugas dan kewajibannya dengan baik.

Jika dia seorang buruh / bekerja diluar, sebelum berangkat mereka telah menyiapkan segalanya pagi-pagi sekali. Setelah beres, baru berangkat kerja. Setelah pulang kerjapun, dia tetap melakukan pekerjaan rumah, melakukannya dengan senang hati. Dia melakukannya dengan niat ibadah dan berbakti kepada seorang suami, semua itu dilakukannnya dengan penuh kasih sayang, kesabaran, dan keikhlasan. Dia mendidik anak-anaknya dengan baik, memberikan nasehat-nasehat yang bermanfaat bagi hidupnya di dunia dan akhirat. Karena kelak orang tua akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dia miliki, termasuk anak / keluarga.

Seorang laki-laki / suamipun luar biasa. Dia bekerja keras membenting tulang mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Terkadang sampai tidak memperhatikan kondisi tubuhnya yang sedang turun. Yang dia pikirkan bagaimana caranya agar bisa mencukupi dan membahagiakan keluarganya. Walau harus bekerja keras dari pagi sampai petang ia tidak perduli, semua itu dilakukannya semata-mata untuk keluarga (anak dan istrinya). Sepulang dari kerja diapun tetap melakukan hak dan kewajibannya, membimbing sang istri dan anak-anaknya, memberikan nasehat, mendidik anak-anaknya. Walau seharian penuh bekerja dia tetap meluangkan waktuuntuk berbincang-bincang atau bersenda gurau dengan anak istri mereka, walau sebetulnya dia lelah ingin istirahat. Apalagi jika dia merantau, begitu sedikit waktu untuk keluarga, tapi mereka tetap memanfaatkan waktu yang sedikit itu untuk berkumpul dengan keluarga, sehingga walaupun tidak bertemu setiap hari dan setiap saat sosok seorang suami  / ayah tetap ada. Karena pendidikan pertama bagi seorang anak adalah di lingkungan rumah (keluarga) dan guru pertama adalah seorang ibu. Dia mengajarkan segala hal kepada anaknya mulai dari hal kecil.

Terkadang ada pula yang tinggal serumah, bertemu setiap saat, setiap hari tapi tidak pernah bersenda gurau atau ngobrol-ngobrol dengan anak-anak mereka atau sebaliknya (lucu memang kedengarannya, tapi itulah kenyataan)

Aku ingin seperti ibuku

Aku ingin rumah tanggaaku seperti rumah tangga orang tuaku

Aku ingin keluargaku harmonis dan bahagia

Aku ingin anak-anakku kelak dekat dengan orangtuanya

Orang tua kita adalah teman kita pula, teman untuk berbagi segala hal

🙂🙂🙂🙂🙂